Thursday, June 25, 2009

Nyaris Ga Bayar

SALE

Percaya deh...baca tulisan di atas walau cuma satu kata bisa membuat sebagian besar cewe-cewe gemetaran, kasak kusuk dan kepikiran hihihi

Dalam setahun pasti ada beberapa periode sale yang digelar mulai dari Mid Year Sale, End Year Sale sampai aneka sale tematik. Dan event-event seperti ini rasanya sayang untuk dilewatkan. Dari rumah janjinya hanya mau liat-liat aja, namun ga jarang pulang malah ngebungkus aneka barang.

Gosh, knapa kok jadi begini?

Pagi ini saat ngecek imel yang jadi bagian rutin memulai hari, saya mendapat beberapa imel di inbox dari berapa retailer. Tawarannya mengiurkan.

Buy one get one, uuuhhhh biasa.

30% off, hmmm dikit amat sih diskonnya.

Adrenalin kok ga terpancing yah kalo penawarannya kayak gini. Kurang menantang. Kurang hillarious. Tau-tau mata saya berhenti pada sebuah penawaran dari toko favourite jang jelas-jelas terpampang angka keramat

70% Off

up to 90% OFF

Nah ini dia yang ditunggu-tunggu. Tanpa pikir panjang dan mendadak lupa sama agenda hari ini yang mustinya ga ada plan keluar rumah, saya langsung mengambil HP dan mengirimkan text message ke teman jalan.

"Jeung, ada acara ngak? keluar yukzz. Toko langganan gelar diskon. 70% bowww. trus ada juga yang up to 90%. Minat?"

SMS terkirim. Message delivered.

ting..tong..ting..tong

yess....ada SMS masuk.

"HAH??? serius. diskonnya gede jeung, nyaris Ga Bayar. MAri berangkat."

SALE 70% Off & Up To 90% OFF = Nyaris Ga Bayar --> LIKE IT!!!

Jadilah duo cewe-cewe ini bertemu di hot spot tempat keriaan SALE digelar, dan mulai panik melihat hamparan benda-benda yang harganya dipotong habis-habisan. Tanpa ba bi bu lagi, kami mulai inspeksi toko dan jelajah sana sini, hunting benda-benda yang (mungkin) dibutuhkan.

Hanya dalam tempo sesingkat-singkatnya (mirip pembuatan naskah proklamasi), saya sudah menenteng beberapa item, begitu juga teman jalan dan belanja hari ini. Sudah berhasil membungkus aneka barang-barang.

Misson Accomplished.

Sampai di rumah, mulailah acara bongkar-bongkar isi tas belanja. sebotol Body mist, 2 botol Body lotion, 1 botol ukuran sedang Liquid Soap, 1 buah Baju Tidur andalan, separang Flip Flop lucu, 1 set cosmetic brush. Dan saat melihat kembali struk belanja, masih terkagum-kagum betapa murahnya harga belanjaan hari ini, hemat hampir 80% dari harga regular.

Tiba-tiba hidup jadi meriah, hati jadi berbunga-bunga. Benar-benar Nyaris Ga Bayar.

Saat membereskan smua benda-benda, sempat termenung cukup lama di depan lemari. Duh, ternyata koleksi body lotion masih ada 5 botol. Parfum pun masih berderet-deret cantik. Sabun cair, baru ingat 2 hari lalu baru aja beli. Flip Flop? iihhh mau dipake kapan, belum lama dapet oleh-oleh sandal. Baju tidur? brush? aaaahhhh pusing....ternyata semuanya masih punya. dan kepunyaannya masih bagus semua.

Yah..gini deh godaan sale bagi perempuan, yang penting sidak (inspeksi mendadak) dulu ke toko, lupa diri dan ngeborong, setelah pulang baru panik.

I wish I could say : NO sama godaan SALE, but it's too late...

Filsafat Kuali

Sbenarnya ide cemerlang jadi filsuf dadakan gara-gara keseringan turun ke dapur belakangan ini.

Critanya gini, sebagai istri orang dan tinggal di negri yang nun jauh di sana tanpa ada bantuan kiri kanan seperti hidup di negri sendiri membuat saya jadi kreatif di dapur. Mulai dari nyoba resep turunan nyokap, resep hasil browsing di situs-situs mari memasak, sampai resep yang diracik sendiri tanpa panduan dari siapapun, semuanya dicoba satu-satu tiap hari demi urusan isi perut saya dan juga suami.

Alat masak yang slalu digunakan guna aneka rupa, cuma yang paling sering digunakan adalah skillet alias wok alias KUALI. Gara-gara setiap hari menggunakan alat masak yang satu ini, sudah pasti saya punya pengalaman menarik dan kurang menarik.

Di dapur koleksi wok dan skillet saya ada beberapa, mulai dari wok yang cekung cukup dalam dan agak berat hingga skillet yang melebar dan cekung namun tidak dalam. Smuanya bermanfaat, smuanya bisa digunakan untuk masak. Namun masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya.

Dari sinilah muncul hasil perenungan dan pemikiran sang ratu dapur di sela-sela menanti masakannya matang hehehe

Jika menggunakan kuali yang dalam, memasak sebetulnya menyenangkan. Karena dapur lebih bersih, bebas dari cipratan minyak dan percikan masakan yang mungkin bakal nempel sana sini. Jenis kuali ini cukup berat, tapi mantap. Ada lagi kuali yang tidak terlalu dalam, nah ini yang repot. Walau sudah hati-hati menggunakannya, tetap saja ada percikan saus atau minyak yang nempel sana sini. Ringan dipakai namun merepotkan, karena harus ekstra bersih-bersih setelah memasak.

Lalu saya mulai membuat analogi, kuali ibarat pikiran dan hati manusia....

Pikiran dan hati manusia, selalu terisi rupa-rupa emosi, ada yang negatif dan ada yang positif terbagi rata antara keduanya. Andai pikiran dan hati manusia diibaratkan seperti kuali, suatu kali bisa saja emosi yang ada di dalamnya bisa dipanas-panasi kompor atau emosi yang ibarat minyak panas bisa terperciki tetesan air.

Kuali yang cekung dalam walau dipanas-panasi kompor di bawahnya atau terperciki air di atas minyak panas yang ada di dalamnya, berdasarkan pengalaman yang saya alami, jarang sekali terjadi percikan minyak/kuah masakan ke luar. Mungkin bisa diartikan pikiran/hati manusia yang telah disiapkan untuk nrimo, untuk iklas, untuk tenang walau dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak kondusif dan rentan buat emosi jadi turun naik, tetap stay cool tidak bereaksi berlebihan. Kalaupun mendidih karena panas kompor, isinya tidak tertumpah kemana-mana, jika minyak di dalamnya terperciki air hanya terdengar bunyi brisik tanpa minyak melesat keluar dan mengotori benda-benda yang ada di sekitarnya.

Kompor dari lingkungan sekitar tidak membuat emosinya terekspos, cukup bergejolak di dalam dan orang itu cukup kuat untuk menjaga hati dan pikirannya yang berkecamuk karena pancingan emosi yang diterimanya. Tidak jarang dalam kehidupan nyata, banyak sekali orang-orang yang dengan sengaja bertingkah laku menjengkelkan. Nah di sini tantangannya, jika kita seperti kuali yang dalam, biarkan emosi itu mendidih di dalam. Jangan sampai keluar jadi emosi negatif yang mengotori diri sendiri dan mengotori orang lain.

Kuali yang cekung tidak terlalu dalam berbeda jauh reaksinya. Dipanasi api yang terlalu besar, isinya terlontar ke luar. Begitu juga jika ada minyak panas ketetesan air di dalamnya. Ibarat isi hati dan pikiran yang dipenuhi emosi, dipanas-panasi langsung bereaksi berlebihan. Tak jarang sikap berlebihan dan emosional kita rasakan dari orang-orang yang hati dan pikiriannya seperti kuali yang tidak dalam. Atau kita sendiri yang pernah merasakan bahwa kita menjadi orang yang berlebihan, dan reaksi emosi negatif dalam hati dan pikirannya cipratannya sampai melukai diri sendiri dan orang lain.

Dari pengalaman ini, saya jadi bisa menilik jauh ke dalam hati dan pikiran saya sendiri. Langsung bisa tersadar, manusia macam apakah saya selama ini? Tanpa bermaksud menghakimi, saya pun jadi bisa mengenali jenis orang-orang yang ada di sekeliling saya saat mereka bereaksi terhadap gejolak emosi dalam hati dan pikirannya.

Kuali yang dalam, cenderung berat. Karena tak bisa dipungkiri, dibuat dari bahan baku yang jumlahnya lebih banyak, mengalami proses pembuatan yang lebih panjang dan mungkin saja lebih rumit. Kuali yang tidak dalam, terasa ringan. Karena bahan bakunya sedikit dan memang dipilih demikian supaya ringan. Tapi kualitas akhir sulit untuk dibandingkan.

Kalo kuali tidak bisa memilih, karena kuali pasrah dibentuk seperti apa di tangan pembuatnya, maka berbeda dengan hati dan pikiran manusia saat mengendalikan emosinya.

Ia yang menentukan jenis kuali hati dan pikirannya, ia yang menyiapkan dirinya dengan baik dari apapun gangguan di luar dirinya (ga peduli sama kompor atau percikan air), ia yang dengan cermat menjaga reaksi emosi dalam hati dan pikirannya.

We're smart enough not to be over-reacted, We're strong enough to be COOL

Wednesday, June 24, 2009

Smakin Mirip Mama

Hai teman-teman ku, apakah engkau punya pengalaman yang ga terlupakan bersama nyokap alias mama alias ibu kalian? Ya iya lhaa..setiap orang pasti memiliki secuil kenangan manis (bahkan kenangan buruk) bersama orang tua perempuannya. Begitu juga aku.

Sedari kecil, aku dan adik ku diasuh oleh mama yang lincah dan cekatan. Bayangkan saja, mama mampu mengerjakan semua pekerjaan rumah dengan cermat dan rapih setiap hari. Tidak pernah aku melihat gurat ketidak iklasan di raut wajahnya saat melayani suami dan kami, anak-anaknya. Walau tak jarang bibirnya mengomel panjang pendek karena kekesalan yang kami, anak-anaknya ciptakan dalam hari-harinya yang penuh warna.

Mama sangat perhatian pada kedua anaknya, sampai-sampai tak jarang beliau begitu over protective melindungi kami. Naluri keibuannya untuk membuat kami tumbuh sehat sangat besar, walau kadang saat masih kanak-kanak kami merasakan mama berlebihan dan sangat ketat dalam aturan di dalam rumah. Harus bobo siang, ga bole jajan sembarangan, jangan main kotor-kotor dan sederet aturan lainnya.

Belum lagi dalam urusan masakan, mama juaranya. Mama sangat tau cara memanjakan lidah anggota keluarga kecilnya. Hidangan sederhana, terasa nikmat di lidah kalau diciptakan dari tangan mama. Bahkan semangkuk sayur asem buatan mama, nothing to compare dengan jenis sayur asem dari resto manapun. Entah apa yang membuat masakan mama senantiasa lezat, mungkin racikan bumbunya yang pas atau karena mama selalu masak menggunakan ketulusan hati, entahlah. Yang pasti wajah mama selalu gembira, saat kami menikmati hidangan di atas meja makan kami sampai tandas. Omelannya segera hilang digantikan senyuman lebar saat kami berlomba-lomba minta tambah lauk hahaha...

Beranjak ABG alias Anak Baru Gede, muncul sifat remaja yang sok tau dalam diri ku. Mulailah aksi-aksi perlawanan terhadap mama, mulai dai pelanggaran aturan rumah, merasa ajakan makan dari teman lebih mengiurkan dari semangkuk sayur asem di rumah, tergoda acara jalan-jalan dan pesta-pesta yang dikirim hampir setiap weekend. Tapi herannya, mama memberikan ijin walau dengan sederetan nasehat dan wanti-wanti ini itu. Setiap pulang (agak) kemalaman, mama pasti menunggu ku, kadang masih melek, kadang sudah tertidur di atas sofa. Pasti mama kecapean menunggu si sulung kembali dengan selamat ke rumah.

Semakin dewasa, kadang aku berulah menjadi-jadi. Lupa pernah berkomentar tajam terhadapnya, lupa pernah membuatnya menangis bahkan lupa kapan pernah membuatnya tertawa bahagia. Tapi mama hebat, tidak pernah di tengah kondisi buruk apapun, aku di komplain. Mama menerima apa adanya, mama menjaga ku dari jauh, bahkan mungkin mama mendoakan ku in silence. Aku yakin, tak ada ibu yang tidak tulus menyayangi anaknya, seheboh apapun kelakuan anaknya.

Suatu kali saat-saat pertengkaran putri dengan mama, sesekali pernah terlontar ucapan, "aku ga mau seperti mama...". YA, aku pernah mengucapkan itu. Karena penilaian ku yang sok tau, mama kurang update, kurang gaul dan kurang masa kini.

Oooh..plis dweh, komentar macam apakah itu.

Tapi saat aku sedang berbagi kisah ini kepada mu, teman. Aku mulai merefleksikan diri ku hari ini, sebagai wanita dewasa yang telah berkeluarga. TAnda ku sadar, aku smakin mirip mama dan sikap mama banyak sekali ku tiru. Banyak kebiasaan-kebiasaan mama di dapur saat menyiapkan masak atau saat membereskan rumah, juga menjadi kebiasaan ku saat ini di dalam rumah tangga ku. Ternyata banyak sekali pancaran kebaikan mama dan ketulusan mama yang ditularkannya pada ku dan yang membentuk ku menjadi wanita dewasa.

Mama tidak pernah mengajarkan pada ku bagaimana menjadi istri dan ibu yang baik, namun keseharian mama betul-betul more than words.. bagai mantra sakti bisa begitu melekat dalam kebiasaan ku. Kalo dulu aku mati-matian ga mau mirip mama, tapi kini I wish I could be like my Mom. Aku ingin sesabar mama, aku ingin sebaik mama, aku ingin setulus mama.

Thanks Mom for everthing You've done to me, You're so precious to me and I'm missing you Now.

(Kalo suatu kali aku pulang kampung, jauh-jauh hari aku aku akan memesan masakan buatan mama)

IT'S Complicated

Buat para pecinta forum jejaring nirkabel macam FS ato FB pasti sudah familiar dengan istilah "it's complicated", sebuah istilah yang tersedia pada kolom relationship selain : Single, In a relationship, Engaged, Married, dan In an open relationship.

Kocaknya, kalo status hubungan tertera wajar macam : SINGLE, Engaged, In a relationship dan MARRIED, apalagi tambah dijelaskan dengan siapa hubungan tersebut dibina, rata-rata minim sekali pertanyaan want to know dari teman-teman. Tapi....kalo mendadak status hubungan berganti menjadi It's Complicated, yang ada benar-benar menjadi complicated sendiri karena jadi sibuk kudu jelasin sana sini via kolom comment tentu saja untuk pertanyaan-pertanyaan mau tau tersebut.

It's Complicated

Ngintip dari kamus Webster "complicated" dijelaskan sebagai sebuah kondisi yang sulit (difficult to analyze, understand or explain). Bisa juga disama artikan dengan COMPLEX.

Jelas aja saat status relationship di FB ato FS diubah menjadi "It's Complicated" mendadak sejuta umat bertanya: mengapa? apakah bisa dibantu? mau ngak share? heh knapa loe? baik-baik aja kan bow?

Pokoknya macem-macem deh pertanyaannya.

Ajaibnya, uda jelas-jelas artinya susah buat dianalisa, dimengerti bahkan dijelaskan namun terkadang penjelasan dari si empu status ga kalah heboh. Mulai dari penjelasan tersirat (kepingin terus dipancing dan dibahas) sampai penjelasan tersurat (gamblang dibahas panjang lebar). Lantas di mana letak complicatednya?

Relationship = Complicated

Namanya juga hubungan pasti ada suka ada duka, ada senang ada susah, ada ketawa ada tangis, ada gula ada semut *LHOOOO* I mean, yang namanya hubungan pasti ada naik turunnya. Hubungan apapun juga, mau hubungan antara anak dan ortu, hubungan atasan bawahan (bukan hubungan kemeja/kaos dengan rok/celana yaaaaa...), hubungan teman, persahabatan, pasti semuanya ada titik mudah dan ada titik sulitnya.

Tapi kenapa juga sampai option sebuah hubungan/relationship disediakan "It's Complicated"? Mungkin option ini buat jenis-jenis hubungan semacam TTM (Teman Tapi Mesra), HTS (Hubungan Tanpa Status), atau para penyandang gelar WIL/PIL? Entah lhaa....abis ga jelas juga kenapa hubungan yang kurang jelas kudu diakui lalu diposting menjadi hubungan yg complicated, membingungkan.

Ada salah seorang sahabat yang sempat mengomentari jenis status relationship yang satu ini dengan agak-agak emosional. Karena status MARRIED nya mebdadak berubah menjadi IT'S COMPLICATED, statusnya langsung dipertanyakan oleh : Pasangannya sendiri HAHHAHHA..

Lalu sahabat ku sempat menjelaskan dengan blak-blakan seperti ini :

"Emang dikira nikah mudah kali, nikah kan juga complicated. Ribet dot com, ga semudah dan segampang yang dipikir, banyak urusan yang harus ditangani, banyak peran yang harus dijalani. Kenapa siy dia (maksudnya pasangannya) musti complain gara-gara status gw diganti jadi "It's Complicated"?? Ga smuanya kan berhubungan sama dia, gw tidak sedang membahas dia kok apalagi membahas hubungan kita. Pokoknya bukan berarti saat status gw jadi complicated tandanya hubungan gw sama dia complicated. Lo paham kan maksud gw?" sahabat saya bertanya kepada saya.

Saya cuma mengangguk-angguk mencoba mencerna dan memahami CurCol nya (CurCol = Curhat Colongan).

"Urusan gw kan banyak, mulai dari urusan sekolah anak-anak, menu makan anak-anak, belom urusan rumah dan tetek bengeknya, trus urusan kantor gw, klien-klien gw, huhhhhh.......smuanya kan kadang emang complicated. Ga salah kan gw ganti status FB jadi Complicated!?" CurCol masih berlanjut dan suara masih melengking tujuh oktaf.

"Masa gitu aja dia (maksudnya pasangannya) komplain, iiihhh ga penting banget dweh. Yang ada gw skarang marahan sama dia. Karena menurut dia gw berlebihan, suka bongkar rahasia rumah tangga. Lhaaa...yang bilang hubungan gw sama dia bermasalah siapa? It's Complicated kan untuk menunjukan status gw yang saat ini sedang ribet karena nguber target marketing bow. Ga ada hubungan sama dia uuuhhhhh sebel sebel sebel." dan kehebohan curhat masih berlanjut.

Dipikir-pikir, hubungan sahabat ku ini justru jadi bermasalah dan sungguhan complicated dengan pasangannya karena dia mengubah statusnya menjadi "It's Complicated". Hahahahha...ada-ada saja....

(P.S. buat yang pernah curhat beginian sama gw, makasi yaaa buat idenya xixixix)

Tuesday, June 23, 2009

Kenapa Kamu Tidak Juara Satu?

Seorang Bunda tengah kecewa. Kecewa saat memerhatikan sederetan nilai raport sang buah hati. Jauh di dalam angan-angannya sang buah hati akan membuatnya berbunga dan berbangga karena menjadi Juara Satu di sekolah. Kecewa melihat anaknya berada di posisi belasan di kelas. Kecewa karena lagi-lagi Bunda tidak jadi bangga saat melihat raport sang buah hati. Sepanjang perjalanan menuju rumah, Bunda yang sedang menyetir mobil mencoba bertanya pada sang Buah Hati.

Bunda : "Kenapa Kamu tidak juara satu?"
Buah Hati: Karena tahun ini Ganesha yang jadi juara satu, Bunda. Tapi aku naik kelas Bunda...asikkk.

"Kenapa Kamu tidak juara satu?" Bunda tak puas dengan jawaban singkat.

"Mungkin karena aku masih senang bermain. Aku suka sekali bersepeda bersama Dana, Rio dan Mika. Mereka menyenangkan, Bunda. Aku suka bermain bersama mereka. Kadang kami tertawa sambil bersepeda jauuuhhh sekali. Kami pernah lho Bunda, bersepeda hingga ke lapangan dan melihat elang terbang. Gagah sekali Bunda, aku ingin jadi elang. Kita juga pernah rame-rame melihat sarang lebah, waaawww..aku belum pernah melihat sarang lebah sebesar itu sebelumnya. Suatu kali kami pulang kesorean, kami melihat kunang-kunang kerlap kerlip di ujung-ujung rumput. Bagus Bunda...."

Sayang bunda tidak melihat betapa lucu ekspresi buah hatinya bercerita soal elang, soal sarang lebah dan kunang-kunang. Bunda sibuk memperhatikan lalu lintas yang kian semrawut.

"Kenapa Kamu tidak juara satu?"

"Hmmm...di sekolah aku senang, Bunda. Aku memang tidak juara satu, tapi aku senang sekali bermain bola. Aku pelari tercepat saat mengejar bola. Pak Alex, guru olahraga ku yang bilang katanya aku berbakat berolah raga. Membayangkan nanti aku bisa seperti Ronaldo, keren ya Bunda."

"Kenapa Kamu tidak juara satu?"

"Tapi aku kan bisa bermain piano dengan baik, Bunda. Waktu Celia ulang tahun, aku diminta bermain piano di rumahnya. Celia suka, papa mama Celia juga suka. Aku senang Bunda. Aku senang karena semua orang senang. Semua orang senang saat aku memainkan lagu dengan iringan piano."

"Kenapa Kamu tidak juara satu?"

"Bunda, aku naik kelas tapi aku tidak tahu kenapa aku tidak juara satu. Suatu hari, jika aku juara satu...Apakah bunda mau mengajak ku berjalan-jalan naik sepeda? Apakah bunda bersedia menonton aku bermain bola? Apakah bunda mau ikut bernyanyi pada saat aku bermain piano? Bunda, aku tidak juara satu pasti karena aku senang naik sepeda, juga karena aku gemar main bola dan bisa memainkan piano.

Hening.

Hanya senandung lagu yang terdengar pelan dari radio mobil yang membuat Bunda berhenti bertanya pada sang Buah Hati.

I believe the children are our future, teach them well and let them lead the way. Show them all the beauty they posses inside. Give them a sense of pride, to make it easier..let the children laughter. Remind us how we used to be.....(The Greatest Love of All - Whitney Houston)

Monday, June 22, 2009

Jangan Mau Jadi Polusi

Polusi??? Apaan tuuuhh??

Polusi atau pencemaran lingkungan hidup adalah masuknya atau dimasukkannya mahluk hidup, zat energi, atau komponen lain ke dalam lingkungan, atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya (sumber : UU Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup No.4 tahun 1982)

Katanya suatu zat sangat berpotensial sebagai polutan (bahan yang dapat mengakibatkan polusi atau pencemaran) kalau keberadaannya dapat menyebabkan kerugian terhadap mahluk hidup, dan memenuhi persyaratan :
1. Jumlahnya melebihi jumlah normal
2. Berada pada waktu yang tidak tepat
3. Berada pada tempat yang tidak tepat

Kita (baca: Manusia) = Penyebab Polusi???

Ya iya lhaaa..karena sebagai manusia kita sudah memenuhi beberapa kriteria sebagai polutan :
satu, kita=manusia = mahluk hidup
dua, memasuki berbagai lingkungan (lingkungan hidup, lingkungan pertemanan, lingkungan pergaulan, lingkungan keluarga, lingkungan kerja DeEsBe..DeEsBe...)

justru pertanyaannya sekarang adalah :

satu, sadar ngak lingkungan berubah gara-gara kegiatan (kadang bisa juga dibaca : Ulah) kita?
dua, merasa punya andil ngak kualitas lingkungan menurun gara-gara (again) kegiatan/ulah kita?

Polusi Sosial

Ngomongin soal polusi pasti ga jauh-jauh dari polusi suara, polusi cahaya, radiasi, belum lagi panas yang smuanya masuk dalam kategori polusi terhadap ruang hidup para mahluk hidup. Lantas bagaimana dengan Polusi Sosial??

Bisa jadi saat ini kita sudah menjadi bagian dari polusi, bukan polusi alamiah tapi polusi "buatan" akibat sikap, perbuatan, ulah kita di dalam lingkungan sosial kita. Pasti semua orang pernah merasakan dikomplain atau mengeluarkan komplain dari atau terhadap seseorang/sekelompok orang. Namanya juga mahluk sosial yang gaul kesana kemari, mulai dari level keluarga, teman, bertetangga sampai kelompok kerja profesional.

Tapi brapa banyak yang berhasil menuding diri sendiri atau minimal sadar kalo dirinya sudah jadi "polusi" karena orang lain jadi kecewa, orang lain jadi sengsara, orang lain jadi menderita, orang lain jadi susah, orang lain jadi marah, orang lain jadi sedih - hanya karena sikap/perbuatan/ulah nya?

Jika mulut kita, hati kita, perbuatan kita dan pikiran kita sudah mengeluarkan "polutan" yang jumlahnya berlebihan kepada teman, sahabat, kenalan, kerabat, keluarga dan tetangga, dikeluarkan di waktu dan tempat yang tidak tepat..artinya kita sudah menjadi penyebab "Polusi" terhadap lingkungan sosial. Jika ada orang yang merasa dirugikan akibat kata, ulah, kegiatan, perbuatan dan pikiran serta sikap kita berarti kita sudah menjadi "Polusi".

Jangan Mau Jadi Polusi, lebih baik Jadilah Solusi.

Wednesday, June 3, 2009

Three Wise Monkeys

Dalam satu kesempatan liburan di tanah air, saya mengunjungi pulau Dewata, Bali. Dengan segala kandungan kebudayan asli BAli yang mempesona ditambah dengan magisnya suasana pulau tersebut tak heran membuat Bali menjadi destinasi turis lokal dan global untuk datang sekedar mencicipi teriknya metahari tropis, hembusan angin yang lembab, deburan ombak yang menggoda para peselancar, deretan agenda pertunjukan seni serta suguhan makanan lokal yang menggoda, belum lagi aneka benda kerajinan yang membuat naluri membeli selalu ada tiap kali menyusuri pasar Ubud dan Sukawati.

Entah sudah berapa kali saya ke Bali, cuma saat ini saya sedang memandangi salah satu cenderamata yang pernah saya bawa dari Bali, The Island of god yaitu sebuah patung berukiran tiga ekor monyet. Masing-masing menutupi telinga, mulut dan mata. Awal membeli karena tergerak oleh keunikan semata. Rasanya ga ke bali, kalo ga beli sesuatu yang agak nyeni dari sana.

Sampai akhirnya saya tau bahwa ketiga monyet ini memiliki kandungan filsafat yang sangat tinggi. Dari hasil google-ing (salah satu kegiatan manusia modern yang melek internet), di temukan dari http://en.wikipedia.org/wiki/Three_wise_monkeys ternyata ketiga monyet itu di kenal dengan sebutan The Three Wise Monkeys yang memiliki kandungan nilai luhur "see no evil, hear no evil, speak no evil".

Berasal dari akar kebudayaan dan kepercayaan masyarakat Jepang, kepercayaan Koshin dan juga ajaran Tao China serta pengaruh dari Shinto, The Three Wise Monkeys menjadi simbol sikap yang perlu dianut oleh seseorang. Rupanya ketiga monyet ini memiliki nama, yang pertama Mizaru, yang menutupi matanya (who sees no evil); kedua, Kikazaru, yang menutupi telinganya (who hears no evil); dan yang ketiga Iwazaru, yang menutupi mulutnya (who speaks no evil).

Jujur saja setelah mengetahui kandungan nilai filsafat dari sosok patung mungil di hadapan saya ini, sempat berpikir betapa indahnya hidup jika memang kita tidak melihat, mendengar dan berbicara hal-hal yang buruk, hal-hal yang keji, hal-hal yang negatif. Sebuah gambaran ideal yang jadi dambaan semua mahluk di atas bumi.

Tapi pada saat kaki menjejak tanah dan menyadari carut marut yang terjadi di atas muka bumi dan melanda semua mahluk di atasnya, kok yaaa patung ini lebih cocok menjadi pajangan saja. Kehilangan esensi dan nilai luhurnya. Atau mungkin kita masih memiliki celah untuk bersikap luhur di tengah carut marut dunia persilatan manusia modern? Kalo melihat kebusukan, yah menutup mata supaya visi positif dan keindahan tidak terganggu. Kalo mendengar kasak kusuk yang keji, mending menutup telinga daripada memancing hasrat untuk memperpanjang berita kemana-mana, menjadi corong keburukan. Kalo sampai mau memuntahkan kata-kata jahanam, lekas-lekas insaf untuk menutup mulut agar tidak memperkeruh keadaan. Hmmm...masih bisa diterapkan rupanya. Belajar sedikit dari filsafat patung monyet supaya bisa menghindar dari desakan-desakan yang akan membuat kisruh keadaan.

Tiba-tiba ada pikiran iseng yang berkelebat, lhaaa bisa aja kan orang yang mengikuti falsafah ketiga monyet ini di cap sebagai orang yang cuek bebek, orang yang EGP-an (baca: EGP=Emang Gue Pikirin)?? Orang yang menutup mata dari fakta dan kenyataan, orang yang mengunci mulut untuk kebenaran dan orang yang menutup telinga dari hal-hal yang baik?

Akhirnya, lagi-lagi kita memiliki alasan untuk melencengkan situasi damai dan filosofi luhur para pemikir-pemikir jaman dulu. Kenapa siy kehidupan smakin cerdas, smakin canggih dan smakin modern malah jadinya semakin mencari celah untuk membolak balik keluhuran?