Dalam satu kesempatan liburan di tanah air, saya mengunjungi pulau Dewata, Bali. Dengan segala kandungan kebudayan asli BAli yang mempesona ditambah dengan magisnya suasana pulau tersebut tak heran membuat Bali menjadi destinasi turis lokal dan global untuk datang sekedar mencicipi teriknya metahari tropis, hembusan angin yang lembab, deburan ombak yang menggoda para peselancar, deretan agenda pertunjukan seni serta suguhan makanan lokal yang menggoda, belum lagi aneka benda kerajinan yang membuat naluri membeli selalu ada tiap kali menyusuri pasar Ubud dan Sukawati.
Entah sudah berapa kali saya ke Bali, cuma saat ini saya sedang memandangi salah satu cenderamata yang pernah saya bawa dari Bali, The Island of god yaitu sebuah patung berukiran tiga ekor monyet. Masing-masing menutupi telinga, mulut dan mata. Awal membeli karena tergerak oleh keunikan semata. Rasanya ga ke bali, kalo ga beli sesuatu yang agak nyeni dari sana.
Sampai akhirnya saya tau bahwa ketiga monyet ini memiliki kandungan filsafat yang sangat tinggi. Dari hasil google-ing (salah satu kegiatan manusia modern yang melek internet), di temukan dari http://en.wikipedia.org/wiki/Three_wise_monkeys ternyata ketiga monyet itu di kenal dengan sebutan The Three Wise Monkeys yang memiliki kandungan nilai luhur "see no evil, hear no evil, speak no evil".
Berasal dari akar kebudayaan dan kepercayaan masyarakat Jepang, kepercayaan Koshin dan juga ajaran Tao China serta pengaruh dari Shinto, The Three Wise Monkeys menjadi simbol sikap yang perlu dianut oleh seseorang. Rupanya ketiga monyet ini memiliki nama, yang pertama Mizaru, yang menutupi matanya (who sees no evil); kedua, Kikazaru, yang menutupi telinganya (who hears no evil); dan yang ketiga Iwazaru, yang menutupi mulutnya (who speaks no evil).
Jujur saja setelah mengetahui kandungan nilai filsafat dari sosok patung mungil di hadapan saya ini, sempat berpikir betapa indahnya hidup jika memang kita tidak melihat, mendengar dan berbicara hal-hal yang buruk, hal-hal yang keji, hal-hal yang negatif. Sebuah gambaran ideal yang jadi dambaan semua mahluk di atas bumi.
Tapi pada saat kaki menjejak tanah dan menyadari carut marut yang terjadi di atas muka bumi dan melanda semua mahluk di atasnya, kok yaaa patung ini lebih cocok menjadi pajangan saja. Kehilangan esensi dan nilai luhurnya. Atau mungkin kita masih memiliki celah untuk bersikap luhur di tengah carut marut dunia persilatan manusia modern? Kalo melihat kebusukan, yah menutup mata supaya visi positif dan keindahan tidak terganggu. Kalo mendengar kasak kusuk yang keji, mending menutup telinga daripada memancing hasrat untuk memperpanjang berita kemana-mana, menjadi corong keburukan. Kalo sampai mau memuntahkan kata-kata jahanam, lekas-lekas insaf untuk menutup mulut agar tidak memperkeruh keadaan. Hmmm...masih bisa diterapkan rupanya. Belajar sedikit dari filsafat patung monyet supaya bisa menghindar dari desakan-desakan yang akan membuat kisruh keadaan.
Tiba-tiba ada pikiran iseng yang berkelebat, lhaaa bisa aja kan orang yang mengikuti falsafah ketiga monyet ini di cap sebagai orang yang cuek bebek, orang yang EGP-an (baca: EGP=Emang Gue Pikirin)?? Orang yang menutup mata dari fakta dan kenyataan, orang yang mengunci mulut untuk kebenaran dan orang yang menutup telinga dari hal-hal yang baik?
Akhirnya, lagi-lagi kita memiliki alasan untuk melencengkan situasi damai dan filosofi luhur para pemikir-pemikir jaman dulu. Kenapa siy kehidupan smakin cerdas, smakin canggih dan smakin modern malah jadinya semakin mencari celah untuk membolak balik keluhuran?
No comments:
Post a Comment