Kalo mendengar kata pensiun pasti pikiran kita adalah situasi kita yang tua tak bertenaga dan berdaya untuk bekerja dan berleha-leha, di mana kita cuma ada di fase sisa hidup untuk menua. Tapi benarkah kita akan memiliki profile seperti itu di masa depan? identik dengan keadaan-keadaan yang disebut?
Ternyata tidak juga...pensiun bisa dikreasikan supaya terjadi indah sesuai dengan keadaan ideal yang diinginkan.
Baru-baru ini seorang teman berbagi pengalaman mengenai pandangannya soal pensiun. Dengan berani dia menyebut angka 45 dari usianya untuk pensiun, menyudahi kegiatan produktif dan rencananya memiliki rentang watu berkualitas untuk menua dan bertumbuh secara intens bersama pasangan dan anak-anaknya.
Saya jadi berpikir sendiri, betapa idealnya keadaan tersebut. Pensiun di usia 45? Bukan hal yang tidak mungkin untuk mencapai itu semua, walau sudah pasti tidak mudah untuk menyiapkan daya yang dibutuhkan melewati masa-masa pensiun dengan tenang dan damai. Asal ada komitmen dan ketekunan, tidak ada yang tidak mungkin.
Saya tau teman saya ini pekerja keras. Sangat keras. Belasan tahun bergelut dengan tenaga, keringat dan (mungkin) air mata mengadu nasib di negri orang. Jauh dari orang tua dan jauh dari pasangan tercinta termasuk anak. Banyak hal yang telah dilewatinya hilang di depan mata, yang dia punya cuma satu tekad : memiliki kualitas hidup dan hidup berkualitas bersama keluarga, tak lama lagi. Katanya, tak apa saat ini terpaksa bekerja luar biasa keras, tak apa menahan rindu ke anak istri, tak apa. Asal mimpi indahnya soal pensiun usia 45 bisa diwujudkan.
Teman lanjut bercerita telah banyak tahun dilalui sendirian tanpa bisa bebas memeluk pasangan dan menggendong si kecil. Telah banyak waktu yang membuatnya bersedih karena tak ada di sisi pasangan yang sedang berbeban masalah dan juga tak bisa ikut meredakan tangis si kecil yang sedang rewel. Di balik keluh kesahnya ada tekad untuk bisa mengembalikan waktu-waktu itu dari sisa waktu hidupnya. Katanya, dia ingin berkumpul bersama keluarga sebelum usia terlalu senja, sebelum tenaga menjadi surut, sebelum cahaya jiwanya redup.
Saya jadi silau dengan semangatnya dan jadi tersentuh dengan impiannya. Ungkapan hatinya adalah doa, rencana yang diucapkannya adalah doa, cita-cita baiknya adalah doa. Di akhir percakapan saya hanya bisa berucap AMIN, Moga-moga saja sang teman dan keluarga diberikan banyak kesehatan dan kesempatan untuk mewujudkan rencananya.
Tuesday, September 21, 2010
CHARLES
Saya sedang tidak mau membahas apalagi bergosip seseorang bernama CHARLES. Tapi kali ini mau sedikit nyentil salah jurus langkah seribu yang kita keluarkan kalo sudah kepepet dan butuh pembenaran dari hal-hal yang mungkin sebenarnya tidak benar, mendadak kita CHARLES alias CHAri-chari aLESan.
Baru-baru ini saya sempat bicara lumayan panjang dengan seorang teman yang pantas mendapat gelar CHARLES of the week. BEtapa tidak?? sepanjang sejam chatting hampir smua reply yang saya trima adalah aneka alasan dari situasi yang tidak mengenakkan yang sedang dialaminya. Memang segala sesuatu punya alasan, tapi alasan-alasan itu bukan menjadi tameng bagi kita untuk Do Nothing kan? Atau membuat kita stuck tanpa harapan seolah kita kita tidak bisa bergerak ke atas, ke bawah, ke kiri, ke kanan, ke depan, dan ke belakang.
Kalo kita mau berpikir-pikir, sebenarnya alasan-alasan adalah tembok-tembok besar yang sengaja kita bangun untuk menutup jalan kesempatan bagi diri sendiri, dan kadang kita senang berlindung di baliknya. Merasa aman kalo kita diam ditempat tanpa harus melakukan apapun "seolah" kita hidup tanpa jalan keluar.
Tapi HEYYYYY...bukankah kita pencipta smua alasan?
Alasan - eksis karena penciptanya, jadi kalo hidup dipenuhi aneka alasan untuk tidak melakukan ini itu, tidak mengerjakan ini itu, tidak bertindak ini itu tapi hasilnya kemudian adalah tidak bisa mencapai ini itu, tidak bisa meraih ini itu, tidak bisa memperoleh ini itu. Siapa yang harus disalahkan? Rasanya salahkanlah sang pencipta alasan itu sendiri! siapa? yah diri sendiri lhaaaaa.....tapi apakah kita sanggup berkaca lalu menunjuk batang hidung sendiri dan menuduhnya sebagai biang keladi mandeknya jalan hidup karena penganut paham CHARLES?
Baru-baru ini saya sempat bicara lumayan panjang dengan seorang teman yang pantas mendapat gelar CHARLES of the week. BEtapa tidak?? sepanjang sejam chatting hampir smua reply yang saya trima adalah aneka alasan dari situasi yang tidak mengenakkan yang sedang dialaminya. Memang segala sesuatu punya alasan, tapi alasan-alasan itu bukan menjadi tameng bagi kita untuk Do Nothing kan? Atau membuat kita stuck tanpa harapan seolah kita kita tidak bisa bergerak ke atas, ke bawah, ke kiri, ke kanan, ke depan, dan ke belakang.
Kalo kita mau berpikir-pikir, sebenarnya alasan-alasan adalah tembok-tembok besar yang sengaja kita bangun untuk menutup jalan kesempatan bagi diri sendiri, dan kadang kita senang berlindung di baliknya. Merasa aman kalo kita diam ditempat tanpa harus melakukan apapun "seolah" kita hidup tanpa jalan keluar.
Tapi HEYYYYY...bukankah kita pencipta smua alasan?
Alasan - eksis karena penciptanya, jadi kalo hidup dipenuhi aneka alasan untuk tidak melakukan ini itu, tidak mengerjakan ini itu, tidak bertindak ini itu tapi hasilnya kemudian adalah tidak bisa mencapai ini itu, tidak bisa meraih ini itu, tidak bisa memperoleh ini itu. Siapa yang harus disalahkan? Rasanya salahkanlah sang pencipta alasan itu sendiri! siapa? yah diri sendiri lhaaaaa.....tapi apakah kita sanggup berkaca lalu menunjuk batang hidung sendiri dan menuduhnya sebagai biang keladi mandeknya jalan hidup karena penganut paham CHARLES?
Subscribe to:
Posts (Atom)