Sbenarnya ide cemerlang jadi filsuf dadakan gara-gara keseringan turun ke dapur belakangan ini.
Critanya gini, sebagai istri orang dan tinggal di negri yang nun jauh di sana tanpa ada bantuan kiri kanan seperti hidup di negri sendiri membuat saya jadi kreatif di dapur. Mulai dari nyoba resep turunan nyokap, resep hasil browsing di situs-situs mari memasak, sampai resep yang diracik sendiri tanpa panduan dari siapapun, semuanya dicoba satu-satu tiap hari demi urusan isi perut saya dan juga suami.
Alat masak yang slalu digunakan guna aneka rupa, cuma yang paling sering digunakan adalah skillet alias wok alias KUALI. Gara-gara setiap hari menggunakan alat masak yang satu ini, sudah pasti saya punya pengalaman menarik dan kurang menarik.
Di dapur koleksi wok dan skillet saya ada beberapa, mulai dari wok yang cekung cukup dalam dan agak berat hingga skillet yang melebar dan cekung namun tidak dalam. Smuanya bermanfaat, smuanya bisa digunakan untuk masak. Namun masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya.
Dari sinilah muncul hasil perenungan dan pemikiran sang ratu dapur di sela-sela menanti masakannya matang hehehe
Jika menggunakan kuali yang dalam, memasak sebetulnya menyenangkan. Karena dapur lebih bersih, bebas dari cipratan minyak dan percikan masakan yang mungkin bakal nempel sana sini. Jenis kuali ini cukup berat, tapi mantap. Ada lagi kuali yang tidak terlalu dalam, nah ini yang repot. Walau sudah hati-hati menggunakannya, tetap saja ada percikan saus atau minyak yang nempel sana sini. Ringan dipakai namun merepotkan, karena harus ekstra bersih-bersih setelah memasak.
Lalu saya mulai membuat analogi, kuali ibarat pikiran dan hati manusia....
Pikiran dan hati manusia, selalu terisi rupa-rupa emosi, ada yang negatif dan ada yang positif terbagi rata antara keduanya. Andai pikiran dan hati manusia diibaratkan seperti kuali, suatu kali bisa saja emosi yang ada di dalamnya bisa dipanas-panasi kompor atau emosi yang ibarat minyak panas bisa terperciki tetesan air.
Kuali yang cekung dalam walau dipanas-panasi kompor di bawahnya atau terperciki air di atas minyak panas yang ada di dalamnya, berdasarkan pengalaman yang saya alami, jarang sekali terjadi percikan minyak/kuah masakan ke luar. Mungkin bisa diartikan pikiran/hati manusia yang telah disiapkan untuk nrimo, untuk iklas, untuk tenang walau dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak kondusif dan rentan buat emosi jadi turun naik, tetap stay cool tidak bereaksi berlebihan. Kalaupun mendidih karena panas kompor, isinya tidak tertumpah kemana-mana, jika minyak di dalamnya terperciki air hanya terdengar bunyi brisik tanpa minyak melesat keluar dan mengotori benda-benda yang ada di sekitarnya.
Kompor dari lingkungan sekitar tidak membuat emosinya terekspos, cukup bergejolak di dalam dan orang itu cukup kuat untuk menjaga hati dan pikirannya yang berkecamuk karena pancingan emosi yang diterimanya. Tidak jarang dalam kehidupan nyata, banyak sekali orang-orang yang dengan sengaja bertingkah laku menjengkelkan. Nah di sini tantangannya, jika kita seperti kuali yang dalam, biarkan emosi itu mendidih di dalam. Jangan sampai keluar jadi emosi negatif yang mengotori diri sendiri dan mengotori orang lain.
Kuali yang cekung tidak terlalu dalam berbeda jauh reaksinya. Dipanasi api yang terlalu besar, isinya terlontar ke luar. Begitu juga jika ada minyak panas ketetesan air di dalamnya. Ibarat isi hati dan pikiran yang dipenuhi emosi, dipanas-panasi langsung bereaksi berlebihan. Tak jarang sikap berlebihan dan emosional kita rasakan dari orang-orang yang hati dan pikiriannya seperti kuali yang tidak dalam. Atau kita sendiri yang pernah merasakan bahwa kita menjadi orang yang berlebihan, dan reaksi emosi negatif dalam hati dan pikirannya cipratannya sampai melukai diri sendiri dan orang lain.
Dari pengalaman ini, saya jadi bisa menilik jauh ke dalam hati dan pikiran saya sendiri. Langsung bisa tersadar, manusia macam apakah saya selama ini? Tanpa bermaksud menghakimi, saya pun jadi bisa mengenali jenis orang-orang yang ada di sekeliling saya saat mereka bereaksi terhadap gejolak emosi dalam hati dan pikirannya.
Kuali yang dalam, cenderung berat. Karena tak bisa dipungkiri, dibuat dari bahan baku yang jumlahnya lebih banyak, mengalami proses pembuatan yang lebih panjang dan mungkin saja lebih rumit. Kuali yang tidak dalam, terasa ringan. Karena bahan bakunya sedikit dan memang dipilih demikian supaya ringan. Tapi kualitas akhir sulit untuk dibandingkan.
Kalo kuali tidak bisa memilih, karena kuali pasrah dibentuk seperti apa di tangan pembuatnya, maka berbeda dengan hati dan pikiran manusia saat mengendalikan emosinya.
Ia yang menentukan jenis kuali hati dan pikirannya, ia yang menyiapkan dirinya dengan baik dari apapun gangguan di luar dirinya (ga peduli sama kompor atau percikan air), ia yang dengan cermat menjaga reaksi emosi dalam hati dan pikirannya.
We're smart enough not to be over-reacted, We're strong enough to be COOL
1 comment:
ah ini memang sudah klop.. yg st berfilsafat ssdh nonton kungfu panda, nah yg ini sembari masak msh bisa merenungkan kehidupan.. hebat.
Post a Comment