Wednesday, November 17, 2010

Terpenjara

Headlines dari beberapa media terkemuka di Indonesia baik cetak maupun eletronik belakangan diramaikan dengan informasi seorang tahanan kasus korupsi bernama Gayus Tambunan terlihat menonton pertandingan tenis internasional di Bali dengan menyamar, tampil dengan memakai wig dan jaket di muka umum.

Bukan satu ini saja yang membuat saya melongo tapi usut punya usut ternyata selama ditahan dia kedapatan sudah keluar masuk tahanan sebanyak 68 kali demi alasan-alasan pribadi. Waktu kedapatan duduk di deretan penonton pertandingan tenis, sibuklah dia memberi pendapat sana sini bukan dirinya. Belakangan di dalam ruang sidang, dia menangis bersimbah air mata di hadapan hakim jaksa mengakui itu dirinya dan menyatakan bahwa dia stress di dalam tahanan memikirkan kasusnya dan butuh refreshing.

WHATTTTTT....sampai di sini saya speechless.

Kutipan di bawah ini saya dapatkan dari wikipedia dan saya jadikan dasar kritikan pedas terhadap sikap dan keputusan Gayus:

A prison (from Old French prisoun) is a place in which people are physically confined and, usually, deprived of a range of personal freedoms.

Dari kalimat di atas saya jelas-jelas orang yang sudah dijebloskan ke dalam penjara tidak punya kebebasan fisik, suka atau tidak suka harus meringkuk di dalam kurungan dengan keadaan yang seadanya. Lalu kebebasan-kebebasan pribadi juga dirampas akibat dipenjara jadi alasan-alasan seperti kangen ketemu keluarga, kepingin refreshing, penggila olah raga dll lupakan saja Bang Gayus.

Saya tidak ingin mengkritik kenapa Gayus korupsi sampai membuat dia dipenjara atau sikap aparat yang sangat luwes dan penuh kompromi untuk membuka dan menutup pintu penjara untuk sosok Gayus. Saya hanya heran, kok bisa-bisanya orang yang jelas-jelas di penjara akibat kesalahannya di mata hukum masih mengharapkan kebebasan manusia-manusia lain yang tidak memiliki record kejahatan/kriminal.

Harusnya yang bersangkutan sadar diri, sejak dirinya ditangkap lalu diperiksa dan dipenjara..dirinya bukanlah manusia bebas, bebas dari kesalahan dan bebas menggunakan hak-hak pribadi layaknya manusia bebas. Terserah dia mau main drama selamanya, mau main akal-akalan, jadi pembohong menutupi segala perbuatannya. Terserah. Cuma yang pasti, pada umumnya orang yang sampai dipenjara adalah orang yang dinyatakan bersalah di mata hukum dan diganjar dengan dirampas hak-hak pribadi dan kebebasannya selama dikurung.

Tuesday, September 21, 2010

Pensiun

Kalo mendengar kata pensiun pasti pikiran kita adalah situasi kita yang tua tak bertenaga dan berdaya untuk bekerja dan berleha-leha, di mana kita cuma ada di fase sisa hidup untuk menua. Tapi benarkah kita akan memiliki profile seperti itu di masa depan? identik dengan keadaan-keadaan yang disebut?

Ternyata tidak juga...pensiun bisa dikreasikan supaya terjadi indah sesuai dengan keadaan ideal yang diinginkan.

Baru-baru ini seorang teman berbagi pengalaman mengenai pandangannya soal pensiun. Dengan berani dia menyebut angka 45 dari usianya untuk pensiun, menyudahi kegiatan produktif dan rencananya memiliki rentang watu berkualitas untuk menua dan bertumbuh secara intens bersama pasangan dan anak-anaknya.

Saya jadi berpikir sendiri, betapa idealnya keadaan tersebut. Pensiun di usia 45? Bukan hal yang tidak mungkin untuk mencapai itu semua, walau sudah pasti tidak mudah untuk menyiapkan daya yang dibutuhkan melewati masa-masa pensiun dengan tenang dan damai. Asal ada komitmen dan ketekunan, tidak ada yang tidak mungkin.

Saya tau teman saya ini pekerja keras. Sangat keras. Belasan tahun bergelut dengan tenaga, keringat dan (mungkin) air mata mengadu nasib di negri orang. Jauh dari orang tua dan jauh dari pasangan tercinta termasuk anak. Banyak hal yang telah dilewatinya hilang di depan mata, yang dia punya cuma satu tekad : memiliki kualitas hidup dan hidup berkualitas bersama keluarga, tak lama lagi. Katanya, tak apa saat ini terpaksa bekerja luar biasa keras, tak apa menahan rindu ke anak istri, tak apa. Asal mimpi indahnya soal pensiun usia 45 bisa diwujudkan.

Teman lanjut bercerita telah banyak tahun dilalui sendirian tanpa bisa bebas memeluk pasangan dan menggendong si kecil. Telah banyak waktu yang membuatnya bersedih karena tak ada di sisi pasangan yang sedang berbeban masalah dan juga tak bisa ikut meredakan tangis si kecil yang sedang rewel. Di balik keluh kesahnya ada tekad untuk bisa mengembalikan waktu-waktu itu dari sisa waktu hidupnya. Katanya, dia ingin berkumpul bersama keluarga sebelum usia terlalu senja, sebelum tenaga menjadi surut, sebelum cahaya jiwanya redup.

Saya jadi silau dengan semangatnya dan jadi tersentuh dengan impiannya. Ungkapan hatinya adalah doa, rencana yang diucapkannya adalah doa, cita-cita  baiknya adalah doa. Di akhir percakapan saya hanya bisa berucap AMIN, Moga-moga saja sang teman dan keluarga diberikan banyak kesehatan dan kesempatan untuk mewujudkan rencananya.

CHARLES

Saya sedang tidak mau membahas apalagi bergosip seseorang bernama CHARLES. Tapi kali ini mau sedikit nyentil salah jurus langkah seribu yang kita keluarkan kalo sudah kepepet dan butuh pembenaran dari hal-hal yang mungkin sebenarnya tidak benar, mendadak kita CHARLES alias CHAri-chari aLESan.

Baru-baru ini saya sempat bicara lumayan panjang dengan seorang teman yang pantas mendapat gelar CHARLES of the week. BEtapa tidak?? sepanjang sejam chatting hampir smua reply yang saya trima adalah aneka alasan dari situasi yang tidak mengenakkan yang sedang dialaminya. Memang segala sesuatu punya alasan, tapi alasan-alasan itu bukan menjadi tameng bagi kita untuk Do Nothing kan? Atau membuat kita stuck tanpa harapan seolah kita kita tidak bisa bergerak ke atas, ke bawah, ke kiri, ke kanan, ke depan, dan ke belakang.

Kalo kita mau berpikir-pikir, sebenarnya alasan-alasan adalah tembok-tembok besar yang sengaja kita bangun untuk menutup jalan kesempatan bagi diri sendiri, dan kadang kita senang berlindung di baliknya. Merasa aman kalo kita diam ditempat tanpa harus melakukan apapun "seolah" kita hidup tanpa jalan keluar.

Tapi HEYYYYY...bukankah kita pencipta smua alasan?

Alasan - eksis karena penciptanya, jadi kalo hidup dipenuhi aneka alasan untuk tidak melakukan ini itu, tidak mengerjakan  ini itu, tidak bertindak ini itu tapi hasilnya kemudian adalah tidak bisa mencapai ini itu, tidak bisa meraih ini itu, tidak bisa memperoleh ini itu. Siapa yang harus disalahkan? Rasanya salahkanlah sang pencipta alasan itu sendiri! siapa? yah diri sendiri lhaaaaa.....tapi apakah kita sanggup berkaca lalu menunjuk batang hidung sendiri dan menuduhnya sebagai biang keladi mandeknya jalan hidup karena penganut paham CHARLES?