Hai teman-teman ku, apakah engkau punya pengalaman yang ga terlupakan bersama nyokap alias mama alias ibu kalian? Ya iya lhaa..setiap orang pasti memiliki secuil kenangan manis (bahkan kenangan buruk) bersama orang tua perempuannya. Begitu juga aku.
Sedari kecil, aku dan adik ku diasuh oleh mama yang lincah dan cekatan. Bayangkan saja, mama mampu mengerjakan semua pekerjaan rumah dengan cermat dan rapih setiap hari. Tidak pernah aku melihat gurat ketidak iklasan di raut wajahnya saat melayani suami dan kami, anak-anaknya. Walau tak jarang bibirnya mengomel panjang pendek karena kekesalan yang kami, anak-anaknya ciptakan dalam hari-harinya yang penuh warna.
Mama sangat perhatian pada kedua anaknya, sampai-sampai tak jarang beliau begitu over protective melindungi kami. Naluri keibuannya untuk membuat kami tumbuh sehat sangat besar, walau kadang saat masih kanak-kanak kami merasakan mama berlebihan dan sangat ketat dalam aturan di dalam rumah. Harus bobo siang, ga bole jajan sembarangan, jangan main kotor-kotor dan sederet aturan lainnya.
Belum lagi dalam urusan masakan, mama juaranya. Mama sangat tau cara memanjakan lidah anggota keluarga kecilnya. Hidangan sederhana, terasa nikmat di lidah kalau diciptakan dari tangan mama. Bahkan semangkuk sayur asem buatan mama, nothing to compare dengan jenis sayur asem dari resto manapun. Entah apa yang membuat masakan mama senantiasa lezat, mungkin racikan bumbunya yang pas atau karena mama selalu masak menggunakan ketulusan hati, entahlah. Yang pasti wajah mama selalu gembira, saat kami menikmati hidangan di atas meja makan kami sampai tandas. Omelannya segera hilang digantikan senyuman lebar saat kami berlomba-lomba minta tambah lauk hahaha...
Beranjak ABG alias Anak Baru Gede, muncul sifat remaja yang sok tau dalam diri ku. Mulailah aksi-aksi perlawanan terhadap mama, mulai dai pelanggaran aturan rumah, merasa ajakan makan dari teman lebih mengiurkan dari semangkuk sayur asem di rumah, tergoda acara jalan-jalan dan pesta-pesta yang dikirim hampir setiap weekend. Tapi herannya, mama memberikan ijin walau dengan sederetan nasehat dan wanti-wanti ini itu. Setiap pulang (agak) kemalaman, mama pasti menunggu ku, kadang masih melek, kadang sudah tertidur di atas sofa. Pasti mama kecapean menunggu si sulung kembali dengan selamat ke rumah.
Semakin dewasa, kadang aku berulah menjadi-jadi. Lupa pernah berkomentar tajam terhadapnya, lupa pernah membuatnya menangis bahkan lupa kapan pernah membuatnya tertawa bahagia. Tapi mama hebat, tidak pernah di tengah kondisi buruk apapun, aku di komplain. Mama menerima apa adanya, mama menjaga ku dari jauh, bahkan mungkin mama mendoakan ku in silence. Aku yakin, tak ada ibu yang tidak tulus menyayangi anaknya, seheboh apapun kelakuan anaknya.
Suatu kali saat-saat pertengkaran putri dengan mama, sesekali pernah terlontar ucapan, "aku ga mau seperti mama...". YA, aku pernah mengucapkan itu. Karena penilaian ku yang sok tau, mama kurang update, kurang gaul dan kurang masa kini.
Oooh..plis dweh, komentar macam apakah itu.
Tapi saat aku sedang berbagi kisah ini kepada mu, teman. Aku mulai merefleksikan diri ku hari ini, sebagai wanita dewasa yang telah berkeluarga. TAnda ku sadar, aku smakin mirip mama dan sikap mama banyak sekali ku tiru. Banyak kebiasaan-kebiasaan mama di dapur saat menyiapkan masak atau saat membereskan rumah, juga menjadi kebiasaan ku saat ini di dalam rumah tangga ku. Ternyata banyak sekali pancaran kebaikan mama dan ketulusan mama yang ditularkannya pada ku dan yang membentuk ku menjadi wanita dewasa.
Mama tidak pernah mengajarkan pada ku bagaimana menjadi istri dan ibu yang baik, namun keseharian mama betul-betul more than words.. bagai mantra sakti bisa begitu melekat dalam kebiasaan ku. Kalo dulu aku mati-matian ga mau mirip mama, tapi kini I wish I could be like my Mom. Aku ingin sesabar mama, aku ingin sebaik mama, aku ingin setulus mama.
Thanks Mom for everthing You've done to me, You're so precious to me and I'm missing you Now.
(Kalo suatu kali aku pulang kampung, jauh-jauh hari aku aku akan memesan masakan buatan mama)
1 comment:
Terima kasih utk berbagi kisah, Mega. Aku jadi terharu memikirkan mamiku sendiri. Jadi mama memang susah yah, apalagi utk anak2 yg sok tahu kayak kita. :(
Post a Comment