Headlines dari beberapa media terkemuka di Indonesia baik cetak maupun eletronik belakangan diramaikan dengan informasi seorang tahanan kasus korupsi bernama Gayus Tambunan terlihat menonton pertandingan tenis internasional di Bali dengan menyamar, tampil dengan memakai wig dan jaket di muka umum.
Bukan satu ini saja yang membuat saya melongo tapi usut punya usut ternyata selama ditahan dia kedapatan sudah keluar masuk tahanan sebanyak 68 kali demi alasan-alasan pribadi. Waktu kedapatan duduk di deretan penonton pertandingan tenis, sibuklah dia memberi pendapat sana sini bukan dirinya. Belakangan di dalam ruang sidang, dia menangis bersimbah air mata di hadapan hakim jaksa mengakui itu dirinya dan menyatakan bahwa dia stress di dalam tahanan memikirkan kasusnya dan butuh refreshing.
WHATTTTTT....sampai di sini saya speechless.
Kutipan di bawah ini saya dapatkan dari wikipedia dan saya jadikan dasar kritikan pedas terhadap sikap dan keputusan Gayus:
A prison (from Old French prisoun) is a place in which people are physically confined and, usually, deprived of a range of personal freedoms.
Dari kalimat di atas saya jelas-jelas orang yang sudah dijebloskan ke dalam penjara tidak punya kebebasan fisik, suka atau tidak suka harus meringkuk di dalam kurungan dengan keadaan yang seadanya. Lalu kebebasan-kebebasan pribadi juga dirampas akibat dipenjara jadi alasan-alasan seperti kangen ketemu keluarga, kepingin refreshing, penggila olah raga dll lupakan saja Bang Gayus.
Saya tidak ingin mengkritik kenapa Gayus korupsi sampai membuat dia dipenjara atau sikap aparat yang sangat luwes dan penuh kompromi untuk membuka dan menutup pintu penjara untuk sosok Gayus. Saya hanya heran, kok bisa-bisanya orang yang jelas-jelas di penjara akibat kesalahannya di mata hukum masih mengharapkan kebebasan manusia-manusia lain yang tidak memiliki record kejahatan/kriminal.
Harusnya yang bersangkutan sadar diri, sejak dirinya ditangkap lalu diperiksa dan dipenjara..dirinya bukanlah manusia bebas, bebas dari kesalahan dan bebas menggunakan hak-hak pribadi layaknya manusia bebas. Terserah dia mau main drama selamanya, mau main akal-akalan, jadi pembohong menutupi segala perbuatannya. Terserah. Cuma yang pasti, pada umumnya orang yang sampai dipenjara adalah orang yang dinyatakan bersalah di mata hukum dan diganjar dengan dirampas hak-hak pribadi dan kebebasannya selama dikurung.