Tuesday, September 21, 2010

Pensiun

Kalo mendengar kata pensiun pasti pikiran kita adalah situasi kita yang tua tak bertenaga dan berdaya untuk bekerja dan berleha-leha, di mana kita cuma ada di fase sisa hidup untuk menua. Tapi benarkah kita akan memiliki profile seperti itu di masa depan? identik dengan keadaan-keadaan yang disebut?

Ternyata tidak juga...pensiun bisa dikreasikan supaya terjadi indah sesuai dengan keadaan ideal yang diinginkan.

Baru-baru ini seorang teman berbagi pengalaman mengenai pandangannya soal pensiun. Dengan berani dia menyebut angka 45 dari usianya untuk pensiun, menyudahi kegiatan produktif dan rencananya memiliki rentang watu berkualitas untuk menua dan bertumbuh secara intens bersama pasangan dan anak-anaknya.

Saya jadi berpikir sendiri, betapa idealnya keadaan tersebut. Pensiun di usia 45? Bukan hal yang tidak mungkin untuk mencapai itu semua, walau sudah pasti tidak mudah untuk menyiapkan daya yang dibutuhkan melewati masa-masa pensiun dengan tenang dan damai. Asal ada komitmen dan ketekunan, tidak ada yang tidak mungkin.

Saya tau teman saya ini pekerja keras. Sangat keras. Belasan tahun bergelut dengan tenaga, keringat dan (mungkin) air mata mengadu nasib di negri orang. Jauh dari orang tua dan jauh dari pasangan tercinta termasuk anak. Banyak hal yang telah dilewatinya hilang di depan mata, yang dia punya cuma satu tekad : memiliki kualitas hidup dan hidup berkualitas bersama keluarga, tak lama lagi. Katanya, tak apa saat ini terpaksa bekerja luar biasa keras, tak apa menahan rindu ke anak istri, tak apa. Asal mimpi indahnya soal pensiun usia 45 bisa diwujudkan.

Teman lanjut bercerita telah banyak tahun dilalui sendirian tanpa bisa bebas memeluk pasangan dan menggendong si kecil. Telah banyak waktu yang membuatnya bersedih karena tak ada di sisi pasangan yang sedang berbeban masalah dan juga tak bisa ikut meredakan tangis si kecil yang sedang rewel. Di balik keluh kesahnya ada tekad untuk bisa mengembalikan waktu-waktu itu dari sisa waktu hidupnya. Katanya, dia ingin berkumpul bersama keluarga sebelum usia terlalu senja, sebelum tenaga menjadi surut, sebelum cahaya jiwanya redup.

Saya jadi silau dengan semangatnya dan jadi tersentuh dengan impiannya. Ungkapan hatinya adalah doa, rencana yang diucapkannya adalah doa, cita-cita  baiknya adalah doa. Di akhir percakapan saya hanya bisa berucap AMIN, Moga-moga saja sang teman dan keluarga diberikan banyak kesehatan dan kesempatan untuk mewujudkan rencananya.

No comments: